Pertanyaan yang sering muncul
Jawaban lugas atas pertanyaan yang paling awal ditanyakan tentang Islam: Allah, Nabi Isa, syariat, kekerasan, perempuan, dan budaya.
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul lebih sering daripada yang lain, jadi jawabannya diberikan apa adanya.
Apakah Allah adalah Tuhan yang lain?
Bukan. Allah adalah kata Arab untuk Tuhan, dan orang Kristen serta Yahudi berbahasa Arab juga memakainya. Di Indonesia hal ini terlihat jelas: Alkitab berbahasa Indonesia memakai kata Allah, dan begitu pula umat Katolik dan Protestan dalam ibadah mereka. Umat Muslim memahami diri mereka menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhan Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Kata itu tetap dipakai tanpa diterjemahkan sebagian karena kebiasaan dan sebagian karena dalam bahasa Arab ia tidak punya bentuk jamak dan bentuk perempuan, sehingga maknanya lebih rapat daripada kata “tuhan” yang umum.
Apakah umat Muslim percaya kepada Nabi Isa?
Ya, dan ini sering mengejutkan. Isa, yang dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai Yesus di kalangan Kristen, adalah salah satu nabi terbesar dalam Islam dan Al-Masih. Umat Muslim meyakini ia lahir dari Maryam yang masih perawan, bahwa kelahiran itu mukjizat, dan bahwa ia menyembuhkan orang sakit serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Maryam punya satu surah dalam Al-Qur’an yang dinamai menurut namanya. Perbedaan dengan keyakinan Kristen ada pada soal ketuhanan: umat Muslim memandangnya sebagai nabi dan hamba Allah, bukan Tuhan atau anak Tuhan, dan meyakini ia akan kembali menjelang akhir zaman. Umat Muslim juga wajib menyebutnya dengan hormat, dan tidak ada versi Islam yang membolehkan pelecehan terhadapnya.
Apa itu syariat?
Syariat adalah keseluruhan tuntunan yang diyakini umat Muslim berasal dari Allah: cara salat, berpuasa, menikah, berdagang, mewaris, makan, memperlakukan orang tua, memperlakukan tetangga. Sebagian besar isinya mengatur ibadah pribadi dan perilaku sehari-hari, dan seorang Muslim di Jakarta atau Manado menjalankan hampir semuanya tanpa satu pengadilan pun terlibat. Para ulama merumuskan tujuan tuntunan itu sebagai perlindungan atas lima hal: agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Perdebatan publik tentang syariat biasanya berkisar pada hukum pidana di segelintir daerah, yang merupakan potongan kecil dan sangat diperselisihkan dari sebuah pokok yang jauh lebih luas, dan bukan itu yang sedang dipikirkan seorang Muslim ketika memakai kata tersebut.
Apakah Islam membolehkan kekerasan terhadap warga sipil?
Tidak, dan sumber-sumbernya rinci, bukan samar. Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam melarang pembunuhan perempuan dan anak dalam perang, melarang pengkhianatan perjanjian, melarang tindakan melampaui batas, dan melarang hukuman dengan api. Beliau menyatakan bahwa siapa yang membunuh orang yang terikat perjanjian damai dengan kaum Muslim tidak akan mencium bau surga, dan menempatkan pembunuhan sebagai dosa besar kedua setelah syirik. Pengeboman, penyanderaan, dan serangan terhadap orang yang sedang menjalani hidupnya melanggar hukum Islam, bukan menyatakannya, apa pun yang dikatakan pelakunya tentang niatnya.
Bagaimana kedudukan perempuan?
Al-Qur’an menyatakan bahwa siapa pun yang berbuat baik, laki-laki atau perempuan, menerima balasan yang sama. Hukum Islam memberi perempuan hak memiliki dan mengelola harta atas namanya sendiri, berusaha, bekerja, mewaris dengan bagian yang ditentukan, mengajukan gugat cerai, dan tetap memakai nama keluarganya. Ketika ditanya siapa yang paling berhak atas perlakuan baik seseorang, Nabi Muhammad ﷺ menjawab “ibumu” tiga kali sebelum menyebut “ayahmu”. Praktiknya di negeri-negeri berpenduduk Muslim sangat beragam, dan banyak hal yang dibela sebagai ajaran Islam sebenarnya adat setempat yang lebih tua atau justru bertentangan dengannya; kawin paksa adalah contoh yang biasa disebut, dan sumber-sumber di sini menyebutnya persis seperti itu. Jilbab, dalam pemahaman arus utama, adalah kewajiban agama, dan perempuan yang dikutip dalam sumber-sumber ini menggambarkannya sebagai keputusan yang mereka ambil sendiri.
Apakah menjadi Muslim berarti menjadi orang Arab?
Tidak. Bahasa Arab dipakai dalam salat dan dalam membaca Al-Qur’an, tetapi selebihnya kebudayaan setempat berjalan terus. Masakan, pakaian, arsitektur, musik, dan adat perkawinan di Aceh, Jawa, dan Bugis berbeda satu sama lain dan berbeda pula dari Arab. Yang diminta ditinggalkan adalah hal-hal yang bertabrakan dengan pokok keyakinan, terutama pemujaan kepada selain Allah, bukan identitas seseorang.
Bagaimana cara mempelajarinya lebih jauh?
Bacalah Al-Qur’an dalam terjemahan, sebaiknya lebih dari satu versi, dan lihat sendiri apa yang dilakukan teksnya, bukan apa yang dikatakan orang tentangnya. Situs ini menautkan terjemahan dalam beberapa bahasa lengkap dengan nama penerjemahnya. Kalau Anda lebih suka bertanya langsung, sebagian besar masjid bersedia menerima tamu dan menjawab pertanyaan tanpa tuntutan apa pun.